PT SOLID GOLD BERJANGKA – Unjuk rasa 4 November tak cuma diakhiri dgn kericuhan tapi jg jatuhnya korban jiwa.

PT Solid Gold Berjangka – Dari keterangan tim GNPF (Gerakan Nasional Penjaga Fatwa) MUI tadi sore, diketahui bahwa korban bernama Syahri bin Umar, asal Tagerang, Banten.

Syahri sendiri disebut memaksakan diri ikut berunjuk rasa.

Kerabatnya, yg dihadirkan dalam konferensi pers bersama tim GNPF MUI di Senayan, Jakarta, berkata Syahri menolak imbauan kerabatnya agar tak ikut berunjuk rasa.

Timbul perbedaan pandangan antara tim medis GNPF MUI & kepolisian perihal kematian pria 65 tahun itu.

Menurut polisi, Syahri meninggal karena serangan asma.

Sedang menurut GNPF MUI, dia meninggal karena gas air mata.

“Gas air mata jatuh di dekat korban sehingga sistem pernapasannya terganggu. Tak lama korban meninggal di dalam ambulans saat dilarikan ke rumah sakit terdekat,” kata Sholeh dari GNPF MUI, dalam konferensi pers itu.

BACA JUGA : Demo Anti-Ahok Rusuh, Polisi Akan Panggil Ketua HMI | PT Solid Gold Berjangka

hmi pt solid gold berjangka

Imam Besar Front Pembela Islam Rizieq Shihab yg jg hadir dalam jumpa pers itu menyampaikan selain Syahri, ada dua peserta unjuk rasa yg jg tewas di hari yg sama.

Namun mereka meninggal di tempat lain, bukan di lokasi unjuk rasa.

Dari keterangan Sholeh, total ada 165 korban terluka dalam unjuk rasa.

Mayoritas korban adalah laki-laki yg terluka akibat sesak napas & bentrokan sesaat dgn petugas keamanan.

Hampir semua korban terluka dilarikan ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan.

Beberapa yg membutuhkan perawatan intensif dibawa ke RSCM & RSPAD Gatot Subroto.

“Mayoritas pasien adalah laki-laki, delapan di antaranya perempuan. Kebanyakan yg laki-laki berusia dewasa muda,” kata Muhammad Baharuddin, Direktur RS Budi Kemuliaan.

Berdasarkan dokumentasi yg diputar GNPF MUI pada konferensi pers, kepulan gas air mata yg dilontarkan polisi mengelilingi demonstran.

Namun reaksi dari massa cenderung minim.

Hal itu yg menurut Sholeh menyebabkan jatuhnya korban luka di pihak demonstran.

Sholeh jg memastikan GNPF MUI membiayai perawatan para korban uang mereka sendiri.

Adapun Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar di Mabes Polri mengatakan penyebab kematian Syahri masih dalam penyelidikan polisi.

Mengutip catatan medis sementara dari RSPAD, Boy mengatakan, korban tewas memiliki riwayat penyakit asma.

Dampak gas air mata, diucapkan Boy, bermacam-macam.

“Dampak penembakan gas air mata, ada yg perih ada yg sesak napas,” ucapnya.

(Prz – Solid Gold)

Advertisements