PT SOLID GOLD BERJANGKA – Katy Perry kembali menyampaikan pesan tersembunyinya lewat video musik.

Kali ini ketika ia merilis video pengiring untuk lagu barunya Chained to the Rhythm.

Disutradarai Matthew Cullen, yg jg pernah membuat video musik Dark Horse & California Gurls, video musik berdurasi empat menit yg baru saja dirilis pada Selasa (21/2) itu memuat sindiran politik Perry untuk Trump, & jg berupaya menggugat kesadaran.

Berlatar taman bermain futuristik, Perry menghadirkan gaya kehidupan modern yg penuh distraksi.

Nama taman bermain Oblivia sengaja dipilih yg jg penanda untuk merujuk pada sesuatu yg ‘serba indah’.

Berbusana futuristik, Perry dalam video musik tersebut diiringi sejumlah penari di antara wahana penuh warna yg semuanya tampak memanjakan mata.

Namun, satu persatu dari apa yg indah itu, di baliknya terdapat berbagai masalah.

Perry mengawalinya dgn bunga mawar yg membuatnya tak sengaja tertusuk duri.

Lalu, adegan berpindah ke wahana American Dream, berupa rumah impian, yg kemudian menjadi penanda masalah krirsis perumahan yg melanda warga Amerika.

Semua tampak indah di awalnya, tapi ‘petaka’ di akhirnya.

Ada banyak petanda yg disorot hanya sekilas, dari mulai penanda tulisan, billboard, patung & permainan hamster yg hanya berputar-putar di tempat yg sama.

Adegan ini seolah berteriak menyampaikan bahwa orang-orang menuju & menunggu dgn sukarela hanya untuk berputar-putar di tempat yg sama.

ungkapan ini sejalan dgn lirik lagu yg tak kalah sarat kritiknya.

“Apa kita sudah gila? Menjalani hidup melalui sebuah kamera, terjebak di dalam pagar yg kita buat sendiri.”

“Seperti hiasan, yg nyaman, tapi sebenarnya kita hanya hidup di antara hal yg semu belaka.”

“Kita tidak dapat melihat bahwa ada masalah di balik ini semua.”

Video musik ini menjadi yg ke-dua setelah beberapa waktu lalu, Perry merilis video musik lirik di mana ia menampilkan adegan memasak hamburger untuk hamster piarannya.

Jika dikaitkan ke-duanya, & adegan wahana bermain di perputaran yg sama, semua menjadi satu kesatuan yg masuk akal.

Kritik Perry tidak hanya sampai di sana.

Pada bagian Inferno Water, di tempat pengisian bensin.

Perry menari di antara para penari berseragam pelaut.

Ada setidaknya dua pesan yg ingin ia kritisi, yakni ketergantungan Barat akan minyak  & atau krisis air bersih di dunia, khususnya Asia yg bisa saja menjadi penyebab perang dunia.

Seiring lagu yg akan menjelang akhir, ia membuat satu adegan klimaks.

Perry duduk dgn kacamata 3D, bersama kerumunan, menyaksikan salah satu pertunjukan di layar.

Yang kemudian dari balik pertunjukan itu muncul penyanyi kolaborasinya Skip Marley yg melantunkan lirik satir berikutnya.

/Hancurkan tembok untuk kita saling terhubung. Waktu terus berjalan untuk sebuah kekuasaan. Kita akan menuju kehancuran, maka bangunlah, bangkitlah/

Di bagian akhir ini, Perry lalu tersadar.

Ia hanya berlari di putaran yg sama.

Video lalu diakhiri dgn dirinya menatap tajam pada kamera, seolah mempertanyakan: “Apakah kita memiliki kesadaran yg sama?”

Video musik Chained to the Rhythm menjadi gebrakan Perry dalam menyampaikan pesannya, spt apa yg ia tegaskan dalam setiap lagu usungannya, bahwa pop jg memiliki misi.

Seperti diketahui, Perry adalah pendukung vokal Hillary Clinton & ia dgn lugas menyampaikan kritiknya pada Trump.

Namun, kali in, lewat video musik, ia menyampaikannya dgn cara yg lebih halus, akan tetapi sarat makna.

(Prz – PT Solid Gold Berjangka)

Advertisements