Solid Gold | Jakarta Direktur Utama PT PLN (Persero), Sofyan Basyir tak mau ambil pusing dgn prediksi sejumlah pihak yg meragukan target 35 ribu Megawatt (MW) bakal tuntas pada 2019. Bos Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang kelistrikan itu tetap optimistis mencapai target tersebut.

Sofyan memperkirakan, tdk akan ada lagi perjanjian jual beli tenaga listrik (Power Purchase Agreement/PPA) antara Independent Power Producer (IPP) dgn PLN pada tahun depan. Semua akan dituntaskan hingga akhir tahun ini.

“Sudah habis ya (PPA), realisasi sdh 31 ribu MW, tinggal punya PLN saja sedikit. IPP hampir sdh selesai, tinggal satu atau dua di mulut tambang Kalimantan, kapasitas 2×100. Itu IPP juga. Jadi hampir tdk ada lagi PPA di tahun depan,” jelasnya, spt ditulis Senin (23/10/2017).

Sofyan lebih jauh menjelaskan, saat ini PLN tinggal menunggu penyelesaian pembangunan sejumlah pembangkit listrik. Untuk pembangkit dgn kapasitas 1.000 sampai 2.000 MW sdh rampung.

“Sekarang tinggal transmisi, & pembangkit tinggal nunggu jadinya di masing-masing daerah karena sekarang sedang dibangun. Yang besar-besar 1.000-2.000 MW sdh selesai,” tutur mantan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk itu.

Dengan realisasi tersebut, Sofyan optimistis mampu menyelesaikan target listrik 35 ribu MW sampai dgn 2019. “Bayangkan kelar tdk tuh? Ya kelar. Memang target ini orang bilang tdk masuk akal, tapi kalau dikerjakan serius, bisa. Saya tdk banyak bicara, tapi banyak dibicarakan,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Naustion memperkirakan, proyek pembangkit listrik antara PLN & IPP yg masih dalam tahap perundingan sekitar 20 persen-25 persen dari target 35 ribu MW.

“Kalau sekarang saja yg masih perundingan sebanyak itu, tdk mungkin selesai di 2019. Hanya pembangkit menengah dgn gas yg bisa selesai 2 tahun, sementara yg besar pakai batu bara 3 tahun bisa tuntas sdh syukur,” kata Darmin.

Lebih jauh lagi, Darmin mengaku, permintaan atau penjualan listrik tdk setinggi yg diperkirakan. Alasannya karena realisasi pertumbuhan ekonomi nyatanya tdk sesuai ekspektasi ketika merancang kebutuhan listrik.

“Kuartal yg lalu saja, permintaan listrik tumbuh negatif, padahal ekonomi positif. Artinya bukan cuma pertumbuhan ekonomi tdk setinggi saat memakai asumsi. Jadi tdk terhindarkan akan ada upaya adjustment (memangkas target 35 ribu MW),” terangnya.

Pemangkasan target 35 ribu MW, kata Darmin, perlu dilakukan agar PLN tdk memikul beban terlalu berat. Jika terus dipaksakan proyek ini, Darmin khawatir tdk ada yg membeli produksi listrik, mengingat permintaan listrik akhir-akhir ini mengalami penurunan.

“Kalau tdk (di-adjsutment), PLN akan memikul beban listrik. Dan nanti kalau diteruskan dgn rencana 35 ribu MW 1-2 tahun lagi, listrik yg dihasilkan tdk dipakai,” ujarnya.

Sementara, PLN dgn IPP telah meneken perjanjian jual beli listrik. Artinya, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu mengatakan PLN harus tetap membayar listrik yg sdh dihasilkan dari proyek pembangkit meskipun tdk dikonsumsi.

“IPP kan punya klausul pakai atau tdk, selesai ya dibayar. Bayarnya berdasarkan apa? Dia akan minta untuk melakukan audit hasilnya sdh keluar, tdk dipakai, harus dibayar. Itu porsinya 80 persen-85 persen dari kapasitas yg harus dibayar,” tegasnya.

“Kontrak listrik ya begitu, apa boleh buat. Makanya jangan sampai lebih. Kelebihan atau surplus listrik, tdk dipakai, tetap bayar ke investor (IPP),” Darmin menerangkan.

 

(Solid Gold Berjangka – Zams)