PT Solid Gold Berjangka – Minuman keras oplosan berbahan ginseng yg merenggut nyawa puluhan orang di Jakarta disebut memiliki rasa bak ‘karet ban’. Efek memabukannya instan. Harganya terjangkau bagi masyarakat kecil. Namun akibatnya fatal, kematian.

Sabtu (30/3) malam, Jimi (bukan nama sebenarnya) menenggak dua gelas kecil minuman keras jenis ginseng. Miras kali ini terasa tak enak di lidah. Pemuda 23 tahun ini menggambarkannya seperti rasa karet ban. Padahal, miras yg dibeli sebulan sebelumnya terasa seperti es teh manis. Menurutnya, hal itu tergantung dari peracik.

“Saya minum malem minggu itu ya. Baru sekarang saja rasanya sangat tdk enak seperti karet ban,” kata dia, saat ditemui di Pondok Cina, Beji, Depok, Kamis (5/4).

Ia menyebut, miras ginseng itu dibeli dari Toko GG di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Tak butuh waktu lama buatnya merasakan efek mabuk usai menenggak dua gelas kecil miras. Kepalanya langsung terasa pusing. Kecepatan efek mabuk ini jg berbeda dari miras yg dibeli sebelumnya.

Keesokan harinya, badan terasa lemas dan perut terasa mual seperti habis minum miras dalam jumlah byk.

“Enggak tahu kenapa kok ini tumben GG rasanya cepet gitu langsung naik ke kepala. Biasanya kan pelan [mabuknya]. Ini langsung cepet naik ke kepala,” tuturnya.

Kawasan tempat tinggal salah satu korban selamat miras oplosan, Pondok Cina, Depok, Kamis (4/4).Kawasan tempat tinggal salah satu korban selamat miras oplosan, Pondok Cina, Depok, Kamis (4/4). (CNN Indonesia/Setyo Aji Harjanto)

Jimi tak curiga dengan kejanggalan-kejanggalan miras tsb. Selama ini, kata dia, ginseng yg dikonsumsinya dua bulan sekali sejak 2016 itu tdk menimbulkan efek samping yg membahayakan.

Menurutnya, miras ginseng ini dipilih karena harganya yg sangat murah. Yakni Rp10.000 (kemasan ukuran dua gelas), Rp15.000 (ukuran tiga gelas), dan Rp20.000 (ukuran empat gelas). Sementara, miras lainnya bisa mencapai Rp65.000 per botol dengan ukuran 600 mililiter.

“Karena memang faktor ekonomi dan sedang pengin minum, enggak ada duit, ya udah beli GG aja yg lebih murah,” ujarnya.

Dua hari pascapesta miras oplosan itu, dia mendengar kabar beberapa temannya yg sama-sama menenggak miras itu masuk rumah sakit. Ia pun disarankan oleh tokoh masyarakat di tempat tinggalnya utk memeriksakan diri ke RS.

Tak lama, ia memutuskan berangkat ke RS Tugu Ibu, Cimanggis, Depok, utk memantau kesehatannya sekaligus menjenguk kawannya. Ia kemudian diberi obat lambung dan kondisinya pun pulih. Namun nyawa sahabatnya tak tertolong.

Lantaran itu, Jimi berjanji tdk akan mengkonsumi miras jenis apapun lagi. Selain karena kapok, hal itu dilakukannya utk menghormati almarhum sahabatnya.

“Saya kapok, saya sih sudah nazar utk berhenti minum utk menghormati teman saya yg sudah enggak ada,” ucapnya, yg enggan menyebut identitas sahabatnya itu.

Data terakhir, 34 orang tewas akibat miras oplosan di empat lokasi terpisah. Yakni, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan; Duren Sawit, Jakarta Timur; Depok; dan Bekasi.

Korban tewas di Depok sendiri mencapai delapan orang. Mereka adalah M, A, A, I, H, MS, A, dan D.

Di kawasan yg sama, Babeh (bukan nama sebenarnya) menyebut bahwa anaknya tdk ikut minum miras ginseng maut itu karena hanya menemani kawan-kawannya demi solidaritas. Kendati demikian, Babeh tetap memeriksakan anaknya, Tomi (bukan nama sebenarnya) ke Rumah Sakit Tugu Ibu utk diperiksa.

“Alhamdulillah anak saya enggak kenapa-kenapa, saya jg enggak yakin dia ikutan minum atau enggak, kalau pun dia minum semoga saja enggak sampai efeknya seperti yg lain,” kata dia.

Kapolres Jakarta Timur Komisaris Besar Tony Surya Putra mengatakan miras ginseng oplosan itu berbahan alkohol murni 90 persen, sirup rasa stroberi, dan minuman energi.

Berdasarkan keterangan keluarga salah satu korban tewas, Kapolres Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar menambahkan, keluhan yg dialami korban adalah sakit di bagian perut yg kemudian menjalar menjadi sesak di bagian dada. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit, namun tak tertolong.

 

Solid Gold Berjangka

Solid Gold

Advertisements